Kami Bukan “Indon”
Bekerja dan hidup di Malaysia merupakan pengalaman terpahit dalam hidup saya. Tidak pernah saya merasa begitu terhina menjadi manusia apalagi sebagai seorang warganegara Indonesia. Ya, Saya adalah warganegara Indonesia, dan saya bangga dan cinta dengan hal tersebut.Saya ingin membagi pengalaman terpahit saya dari semua pengalaman pahit yang pernah saya alami. Kejadian ini terjadi pukul tujuh malam, hari Rabu tepatnya tanggal 12 Desember 2007. Hari itu saya merasa sudah cukup letih dengan pekerjaan dan memutuskan untuk pulang meskipun sedang hujan.Keluar dari gerbang Kedutaan Besar RI Kuala Lumpur, saya dan teman memutuskan untuk naik taksi. Kami sadar pilihan ini akan membuat kami harus menunggu cukup lama. Sekedar informasi, kalau cuaca bagus dan masih relatif sore mencari taksi susahnya bukan main, apalagi dengan keadaan hujan dan larut malam. Setelah menunggu hingga beberapa puluh menit, akhirnya ada taksi yang berhenti. Saya pun merasa sangat bersyukur. Karena harus melipat payung terlebih dahulu dan hal ini sedikit memakan waktu, maka ketika masuk taksi saya pun mengucapkan “maaf yah” pada supir taksi, standar orang Indonesia dalam bersopan santun. Beberapa detik setelah siap dan menuju tempat tujuan, sopir itu bertanya “you Indon ke?” Saya jawab: “Indonesia.” Kemudian dengan nada tinggi dia kembali mengatakan “Indon” saya jawab “Indonesia” dan berulang beberapa kali seperti itu. Kemudian dia pun mengatakan “No Indonesia in Malaysia there is only Indon,” dengan nada marah-marah. Kemudian dia menyusul makiannya dengan berkata, “I am a muslim, I am scared of nothing, you indon did wrong, you scared people afraid to know you are indon,” dengan nada emosi dan bingung teman saya mulai melawan, “no, we aren’t scared of nothing, we are Indonesia not Indon.” Kemudian saya menyondongkan badan ke depan ke arah supir dan menyorongkan muka ke arahnya dan bertanya: “do you have problem?” Kemudian dia menjawab “no, good enough.” Saya jawab “Ok” dan dia membalas “Ok, no talk.” Setelah saya balik duduk di posisi menyender, kembali dia berucap “you indon all crazy, criminals, get out of here, it’s free for you indon, get off” dan mengucapkan itu berulang kali. Kami pun langsung turun, meskipun hujan dan macet, dan posisi taksi yang kami tumpangi berada di tengah-tengah jalan.Makian gila itu tidak berhenti sampai kami turun. Setelah kami ke pinggir sambil merasa shock, supir itu keluar dari taksi, berteriak-teriak ditengah jalan, “you indon bastard, you wont pay, you all criminals,” sampai-sampai semua orang dalam mobil yang sedang sesak dan macet itu pun melihat ke arah kami. Sekedar informasi, argo di taksi itu baru RM2 lebih beberapa sen, karena kami baru berjalan sekitar 200 meter. Membuka pintu taksi di Malaysia akan dikenakan tarif buka pintu sebesar RM2, atau Rp. 5000. Lagipula dia mengusir kami dengan mengatakan “it’s free.” Buat apa kami bayar setelah dicaci-maki dan diusir apalagi baru jalan sekitar 200 meter. Ketika mobil mulai berjalan pun dia membuka kaca dan tetap memaki. Saya tidak mengerti, saya sangat merasa sakit hati dan tidak percaya ini terjadi.Saya tidak mengerti, mengapa sulit sekali bagi mereka (saya tidak menyebut seluruhnya, namun mayoritas orang Malaysia) untuk memanggil orang Indonesia dengan Indonesia dan bukan “Indon”. Sudah pekak telinga saya disebut-sebut sebagai “Indon”. Sebagai staf lokal KBRI di Malaysia, keinginan untuk meluruskan atau menghilangkan istilah ini mungkin jauh lebih besar daripada bagi warganegara Indonesia yang bekerja diluar KBRI Kuala Lumpur.Bekerja di instansi ini membuat saya melihat lebih jelas segala ketidakadilan yang dialami oleh WNI. Walaupun demikian, saya berusaha membuat perbedaan dengan apa yang saya lihat dari nasib orang-orang Indonesia yang berada di penampungan dan yang mendapat kesuksesan mencari nafkah di Malaysia.Nyatanya, begitu saya menginjakkan kaki keluar dari KBRI Kuala Lumpur, hinaan dan tawaan yang bernada merendahkan justru seringkali saya alami sebagai seorang warga negara Indonesia. Kami bukan “Indon”. Kami Indonesia. Saya rasa hal ini cukup simple dan mudah dimengerti oleh bangsa yang sangat maju seperti Malaysia. Saya lelah dihina dan ditertawakan. Ingin sekali saya berteriak sampai menggema ke seluruh penjuru Malaysia bahwa dengan bangga dan rasa cinta saya mengungkapkan, “Saya adalah warganegara Indonesia”.
Penulis :Galuh Pangestu Indraswari, Staf Lokal Bagian Pendidikan KBRI Malaysia
Mobile phone: +60169613071Office: +60-03-21164121 Fax: +60-03-21445528
Dikutip dari : http://myindo.com/story/241.asp







4 Responses to Kami Bukan “Indon”
Salam sahabat.
Saya orang Malaysia.
Saya rasa amat malu atas apa yang menimpa kamu.
Saya tidak sangka ada juga orang Malaysia yang perangai GILA seperti itu.
Saya minta maaf atas apa yang menimpa kamu.
Jika perkara tersebut berlaku didepan saya, saya akan berpihak kepada orang Indonesia,
orang biadab seperti itu tidak layak hidup di Malaysia dan dimana-mana sekalipun.
Kamu jangan risau, bukan semua orang Malaysia seperti itu,
orang yang seperti itu biasanya adalah orang UMNO...
Saya kagum, kerana kamu masih mampu sabar dengan orang seperti itu...
Sabar saja... Tuhan bersama orang yang sabar........
emel saya: admin@afif.net.ms
saya setuju ama dr.know...
tapi kamu lebih tau la...aq di pihak mana... soalnya bukan aq lupa asalku..cuma aq malu karna masih aja ada org seperti ini.... ilmunya gak seberapa tapi omongannya seperti para ilmuwan hebat...
yg sabar ya WNI yg laen...
btw, i'm malaysian...peace!
Saya terpanggil untuk terus membaca entri anda ini. Saya rakyat Malaysia. Tidak semua rakyat Malaysia begitu. Yang bersikap begitu biasanya yang kurang pendidikan. Jangan kerana setitik nila rosak susu sebelanga.
Memang ramai tidak faham istilah Indon. Malah saya juga masih kabur dengan istilah Indon itu sebenarnya. Kami tidak bermaksud menghina bila menyebut istilah Indon bila merujuk orang Indonesia. Bagi kami itu kata singkatan sahaja. Boleh tak saudara jelaskan maksudnya? Saya sedia membantu dengan membuat entri memperbetulkan nya di blog saya kelak.
Saya kesal kerana apa yang terjadi kepada saudara itu. Kalau saya sendiri pun mungkin akan memaki balik kepada pemandu teksi itu. Kita tidak boleh menyamakan semua orang dengan 1 label tertentu. Manusia ini dijadikan Allah adalah sama kecuali pegangan keimanan mereka.
Semoga kita semua berada dalam situasi yang aman tanpa prasangka di masa akan datang.
Salam persahabatan dari saya.
saya kesal dengan perangai pemandu teksi itu..
tapi saya muskil:-
kenapa tak bole dipanggil indon?
kedatangan orang indonesia ke malaysia untok berkerja bermula dari tahun 70an lagi. dimasa itu pun kami dah memanggil mereka dengan singkatan "indon". tiada siapa yang marah pun pada masa itu. kerana mereka tahu itu bukan hinaan tapi panggilan ringkas. kenapa zaman sekarang baru nak melenting. rakyat bangladesh tak marah pun dibanggil "bangla". bahkan negara2 lain pun memanggil "bangla".
Something to say?